People Pleaser: Pengaruh Buruk terhadap Kesehatan Mental
Manusia
merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan selalu membutuhkan bantuan orang lain. Hal ini terbukti sejak manusia lahir ke dunia, manusia
langsung berinteraksi yakni dengan orang tua dan keluarganya. Ketika masih
bayi, bentuk interaksi manusia yaitu dengan cara menangis. Hingga akhir
hayatnya, manusia akan tetap berinteraksi dan terus menjalin hubungan dengan
manusia lainnya. Walaupun manusia merupakan makhluk sosial, manusia juga
termasuk makhluk individual, yakni manusia akan selalu memenuhi kebutuhan
hidupnya dan tidak selalu bergantung pada orang lain. Namun, banyak orang di
sekitar kita yang tidak menerapkan definisi manusia dalam kehidupannya. Banyak
orang yang terlalu bergantung dengan orang lain dan tidak menerapkan bahwa
manusia juga makhluk yang individual.
People Pleaser dan Pengaruhnya terhadap Kesehatan Mental
Kesehatan
mental menjadi isu yang ramai dibicarakan, terutama bagi kalangan muda. Karena
memang kesehatan mental itu sangat penting bagi manusia. Banyak orang yang
lengah dan tidak memperhatikan kesehatan mentalnya. Jika kesehatan mental kita
terjaga, maka kita dapat menjalani kehidupan dengan nyaman, kualitas hidup
meningkat, lebih produktif dalam menjalani berbagai aktivitas, mampu menghadapi
masalah dengan akal yang sehat dan pikiran yang positif, serta mampu menjalin
hubungan yang positif dengan orang lain. Namun, Jika kita stres dan depresi
karena suatu hal, maka mental kita akan terganggu dan akhirnya berpengaruh
terhadap kehidupan yang kita jalani. Salah satu hal yang berpengaruh bagi
kesehatan mental kita adalah memiliki sikap yang tidak enakan atau tidak tegaan
yang terlalu berlebihan. Sikap ini dapat menyebabkan seseorang menjadi stres,
depresi, dan tertekan. Orang yang memiliki sikap seperti ini disebut dengan people
pleaser. Orang yang berkepribadian seperti ini sangat mudah untuk dipengaruhi oleh
orang lain dan mudah untuk dimanfaatkan oleh orang lain.
People pleaser merupakan salah satu sikap yang timbul karena orang tersebut terlalu bergantung pada orang lain dan ingin melakukan apa saja untuk kesenangan orang lain. Orang yang memiliki sikap ini cenderung mementingkan dan memenuhi kebutuhan orang lain dari pada dirinya sendiri. People pleaser pada dasarnya adalah orang yang selalu berbuat baik kepada orang lain. Namun, karena terlalu baik mereka tidak bisa menolak jika terdapat sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya. Mereka enggan untuk berkata “tidak” karena takut mengecewakan orang lain, takut ditinggalkan oleh orang lain, dan mereka tidak ingin ada perselisihan yang timbul karena dirinya. Walaupun apa yang diinginkannya tidak sesuai, mereka akan selalu menuruti apa kata orang lain. People pleaser ini sering melekat pada orang yang tidak memiliki kekuatan sosial. Mereka berusaha untuk memenuhi apa yang dibutuhkan oleh lingkungan di sekitarnya.
People pleaser ini sangat merugikan bagi setiap individu. Dengan tidak mengatakan apa yang sebenarnya diinginkan, artinya kita telah membohongi diri kita sendiri. Dari sikap ini bisa menimbulkan stres dan kita merasa tertekan. Contoh simpelnya, Ani merupakan orang yang introvert yang memiliki seorang sahabat bernama Diana. Diana memiliki kepribadian yang ekstrovert, berkebalikan dengan Ani. Mereka tinggal di asrama yang kebetulan satu kamar. Suatu hari, Diana mengajak Ani untuk mengikuti kegiatan di luar asrama. Namun, Ani merasa kegiatan di asrama sudah terlalu banyak dan energinya sudah terkuras di asrama. Tetapi, Ani merasa tidak enak untuk menolaknya karena Diana ini teman sekamarnya dan sangat dekat dengannya. Ani pun mengiyakan ajakan Diana, walaupun sebenarnya ingin untuk menolak. Selama kegiatan di luar asrama, Ani merasa energinya habis karena dia pun tidak suka keramaian apalagi banyak orang yang mengenalinya. Hari-hari berikutnya Diana selalu mengajak Ani, dan Ani pun selalu menurutinya walaupun dirinya sangat tertekan. Ani seperti tidak mempunyai pendirian dan arah hidupnya yang selalu diatur oleh Diana.
Dari contoh diatas, Ani mempunyai sikap people pleaser. Jika dia tidak merubahnya, dia akan tertekan dan lama-kelamaan akan berpengaruh terhadap kesehatan mentalnya. Ani yang selalu memprioritaskan kepentingan dan kebahagiaan Diana tanpa mempedulikan kondisi dirinya. Ani takut jika dia menolaknya maka akan terjadi keributan dengan Diana, dan dia tidak ingin itu terjadi. Jika ini dibiarkan, maka Ani dapat mengalami stres bahkan juga depresi karena selalu tertekan dan tak mampu untuk berkata yang sesungguhnya kepada Diana. Kondisi stres, tertekan, hingga depresi ini akan mengganggu dan mengancam kesehatan mentalnya. Dari sini sudah jelas, bahwa mempunyai sikap people pleaser sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental kita. Untuk menambah wawasan mengenai kesehatan mental yang lebih dalam, kita dapat mengakses website dearsenja.com dan blog dear senja. Selain berbagai macam artikel mengenai kesehatan mental, pada situs tersebut juga terdapat komunitas yang berfokus pada kesehatan mental di Indonesia, dan kita bisa join di komunitasnya.
Solusi untuk Meminimalisir Sikap People Pleaser
Lalu, bagaimana cara meminimalisir sikap tersebut demi kesehatan mental kita? Berikut merupakan tips untuk terhindar dari sikap people pleaser
1. Kenali diri sendiri dan tetapkan personal boundaries
Tidak semua orang mampu untuk mengenal dirinya
sendiri. Untuk meminimalisir sikap people pleaser, kita harus mampu
mengenali diri kita terlebih dahulu. Kenali apa yang kita rasakan jika
berinteraksi dengan orang lain dan juga harus bagaimana untuk merespon orang
lain. Dengan mengenal diri sendiri, berarti kita telah memahami apa yang kita
dibutuhkan dan yang kita rasakan. Dengan begitu, kita akan memiliki kebahagiaan
seutuhnya tanpa adanya paksaan. Kenali apa yang menjadi sifat dan sikap kita,
kelebihan dan kekurangan kita, hal yang dapat dilakukan untuk memperbaiki
kekurangan kita, dan menetapkan batasan-batasan personal kita untuk orang lain
atau bahasa kerennya personal boundaries. Dengan mengenal diri secara mendalam
dan menetapkan personal boundaries, kita akan tahu apakah seseorang
telah melewati batas personal kita atau belum, sehingga kita dapat meresponnya
sesuai dengan pilihan hati kita.
2. Berani untuk berkata “tidak” jika tidak sesuai dengan kemauan dan hati nurani
Orang yang memiliki sikap people pleaser sulit
untuk mengatakan “tidak” kepada orang lain. Mereka selalu setuju atas
permintaan atau gagasan orang lain. Untuk meminimalisir sikap ini, maka seorang
people pleaser harus berani untuk mengatakan ”tidak” atau berani menolak
atas segala hal yang tidak sesuai atau tidak diinginkannya. Mulai dari hal-hal
yang kecil terlebih dahulu, Nanti lama-kelamaan akan terbiasa untuk mengatakan
sesuai dengan hati nurani. Namun, untuk menolaknya harus menggunakan bahasa
yang sopan dan tidak menyinggung perasaan orang lain agar tidak terjadi
perselisihan.
3. Mempunyai pendirian dan mampu untuk bersikap tegas
Manusia yang berada di planet bumi ini memiliki
karakter yang berbeda-beda, begitu juga dengan tujuan hidupnya. Oleh karena
itu, tidak jarang kita menemui adanya perselisihan dengan orang lain akibat
tidak searah dengan tujuan atau pemikiran kita. Dari situlah kita harus
mempunyai sikap yang tegas dan mempunyai pendirian. Mengapa demikian? Karena
agar kita tidak mudah dipengaruhi oleh orang lain dan tidak mudah goyah dengan
pilihan kita. Misalnya, Ani ingin melanjutkan pendidikan tingginya di
Yogyakarta, sedangkan Diana ingin melanjutkan pendidikan tingginya di Bandung,
namun Diana ingin bersama sahabatnya (Ani) untuk tinggal di Bandung. Jika Ani
memiliki sikap pendirian dan tegas, maka Ani dapat menolaknya karena dia
memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikannya di Yogyakarta. Menolak tanpa
menyakiti hati Diana, sahabatnya. Mempunyai sikap tegas dan teguh pendirian ini
sangat penting agar orang lain tidak memaksakan suatu hal pada kita.
4. Tidak memikirkan omongan dan anggapan orang lain atas diri kita
Saat pertama kalinya kita merubah sikap, pasti ada
orang lain yang membicarakan kita atau hanya sekadar kaget dan aneh saja dengan
sikap kita. Apapun yang orang lain bicarakan tentang diri kita, hiraukan saja
dan tak perlu dipikirkan. Fokus ke diri sendiri saja yang ingin merubah sikap
untuk menjadi lebih baik demi kesehatan mental kita. Jika yang orang lain
bicarakan itu adalah hal yang baik, anggap saja itu motivasi kita agar lebih
semangat lagi dalam meminimalisir dan menghilangkan sikap people pleaser
dalam diri kita. Namun, jika yang dibicarakan tentang kita adalah hal yang
buruk, yang dapat membuat kita menjadi lebih buruk, maka hiraukan saja. Orang
yang seperti itu adalah orang yang toxic untuk kita.
5. Berhenti untuk selalu membahagiakan orang lain
Seorang people pleaser selalu mengutamakan
kebahagiaan orang lain diatas kebahagiaan dirinya sendiri. Mulai saat ini,
karena kita ingin meminimalisir dan menghilangkan sikap tersebut dari diri
kita, maka kita harus selalu mengutamakan kebahagiaan kita terlebih dahulu.
Ingat, yang menjalani kehidupan itu kita, bukan orang lain, dan yang
bertanggungjawab atas diri kita ya kita sendiri, bukan orang lain. Kita berhak
untuk memilih apa yang kita inginkan dan membahagiakan orang lain bukan
kewajiban kita.
6. Keluar dari zona nyaman
Seorang people pleaser selalu terjebak dalam
zona nyamannya. Mereka enggan untuk keluar dari zona nyaman karena takut
melakukannya dengan pikiran-pikiran buruk yang menghantuinya. Namun, kalau kita
terus-terusan berada di dalam zona nyaman, kapan kita dapat berubah? Kapan kita
dapat menjalani kehidupan dengan tenteram dan tidak ada tekanan? Jangan mau
untuk terus-terusan terjebak di dalam zona nyaman kita. Cobalah lakukan sedikit
perubahan agar hidup kita menjadi lebih baik, terutama yang menyangkut kesehatan
mental.
Referensi:
Wee, D. 2021. Tegas Membangun Batas. Laksana. Yogyakarta.
Herdiansyah,
C. U. 2022. Terapi Feminis melalui Self-Puzzle Challenge untuk Mengatasi
Sikap People Pleasing pada Remaja di Kelurahan Husein Sastranegara Kecamatan
Cicendo Kota Bandung Jawa Barat. Skripsi, Prodi BKI, FDK, UIN Sunan Ampel
Surabaya.


Komentar
Posting Komentar