Perjalananku Menjadi Mahasiswa, Dari Yang Semula Bucin UI Hingga Menjadi Mahasiswa UIN Suka Yogyakarta

Tulisan ini sengaja ku buat sebagai reminder bagi diriku ketika mengalami kejenuhan dengan dunia perkuliahan. Ketika jenuh, agar selalu ingat bahwa apa yang didapat sekarang bukanlah sesuatu hal yang mudah sehingga akan selalu semangat dalam menjalaninya.
       

    Semua orang pasti mempunyai tujuan dalam hidupnya, begitu juga dengan diriku. Kala itu masih MTS, dan aku mengidolakan salah satu dari member CJR, yaitu Iqbaal Ramadhan. Dia mempunyai kakak yang bernama Fildza Hasnamudhia yang kerap disapa teh Ody. Saat itu teh Ody masih menempuh pendidikan di FKG UI. Aku yang masih kelas 9 saat itu menjadi penasaran, UI itu dimana sih, seperti apa lingkungannya, kedokteran gigi itu belajar apa saja sih, dan aku pun langsung mencari tahu jawabannya lewat google. Setelah tahu UI itu berada di daerah Depok, fasilitasnya apa saja dan juga hal-hal terkait dengan kedokteran gigi, aku pun langsung jatuh cinta dengannya dan kebetulan aku memang tertarik dengan dunia medis. Mulai saat itulah aku mempunyai tujuan ke FKG UI, dan aku melanjutkan pendidikan ke SMA IPA (walaupun sebelumnya ada perselisihan dengan ibu yang menyuruhku ambil ips bahkan ke smk tata boga) karena aku tahu untuk menjadi dentist itu harus dari SMA IPA.

    Tertarik dengan dunia medis tapi benci dengan biologi dan menyukai matematika begitulah aku semasa SMA, aneh memang bisa-bisanya tertarik dunia medis tapi malah benci biologi. Saat kelas 11 disuruh mengikuti OSK matematika dan saat itulah aku mulai berpikir kalau FKG itu bukanlah jalanku dan mulai menyadari bahwa dunia matematika adalah passionku. Semenjak itu dari FKG UI aku beralih bucin ke FMIPA UI. 
    
     Perjalanan untuk ke universitas dimulai sejak SNMPTN 2019. Masa remaja adalah masa dimana seseorang masih labil dan terpengaruh oleh hasutan-hasutan temannya. Ya itu terjadi dengan diriku, dimana temen-temen selalu bilang "kamu yakin ambil UI di SNM? Eman banget nilaimu, mending turunin aja egomu". Aku selalu memikirkan apa yang temanku ucapkan tapi aku juga memikirkan tentang tujuanku yang sudah melekat dalam jiwa. Aku memang orangnya keras kepala, kalau mau A ya harus nyoba A sampai mati pun akan tetap milih A jika memang itu baik untukku (tapi juga selalu ingat bahwa apa yang menurutku baik itu belum tentu baik menurut Allah). Sembari menunggu SNM, aku juga mengikuti SPAN PTKIN dan memilih UIN Suka. 

    Saat pengumuman SNM, saat itu masih ada kegiatan KBM khusus mapel UNBK dan paginya temanku sudah ada yang membuka dan ditolak lalu nangis-nangis, dan saat itu aku ngerasa mungkin aku juga sama nasibnya dengan dia. Pulang sekolah, aku langsung membuka pengumuman namun servernya down dan aku langsung meminta bantuan temen. Aku ditelepon sama Niken, dan dia membuka pengumumanku, "Mi, sabar ya, kamu ditolak" Ucap Niken sambil nangis. Yang ditolak aku tapi yang nangis temenku, lucu juga ya. Aku berusaha menenangkan diri dan fokus ke UTBK. Setelah UNBK selesai, ada program bimbel UTBK dari sekolah dimana yang ngajar adalah tentor dari salah satu bimbel di daerahku. Setelah mengikuti UTBK pertama dan kedua bersama dengan teman-teman lalu tibalah pengumuman dimana lagi-lagi aku gagal, pilihanku saat itu mtk dan fisika Unsoed, bukan UI karena aku sadar diri. Aku berasal dari keluarga biasa yang mendaftar universitas pun menggunakan bidikmisi/kip, jadi ikut ujian mandiri pun harus pilih-pilih dan akhirnya aku mendaftar dua mandiri UNY dan mandiri ITB, dan lagi-lagi yang ku pilih adalah matematika (FMIPA). Saat itu aku mengajak Anne untuk ikut mandiri ITB, aku tidak sadar bahwa minatku dengannya itu sama-sama di mtk, dan akhirnya pilihan 1 ku dengan dia sama-sama FMIPA, mungkin orang lain akan berpikir "bunuh diri, karena saingannya temen deket sendiri". Dan saat pengumuman dia lulus di FMIPA ITB sedangkan aku gagal. Gimana perasaanku saat itu? hancur tapi aku berusaha menenangkan diri karena masih berharap di mtk UNY, namun lagi-lagi ditolak. Pupus sudah harapanku untuk kuliah di tahun itu. Ada keinginan untuk mendaftar di swasta dengan bidikmisi tapi saat itu bidikmisi hanya bisa dipakai mendaftar 1 kali dan itu membuatku bingung harus mendaftar kemana. Tadinya mau mengikuti simak UI di Yogyakarta tapi tidak mendapat restu dari orang tua.

      Setelah diskusi dengan orang tua, akhirnya aku memutuskan untuk mengambil jeda 1 tahun yang lebih akrab dengan istilah gap year. Awal gap year rasanya sangat hancur, apalagi ketika melihat snap temen-temen yang sedang mengikuti ospek, gathering, dan juga closing ospek offline yang sangat menyenangkan sepertinya sedangkan aku harus menata ulang dan berusaha lagi agar bisa seperti mereka. Namun, disisi lain aku merasa bersyukur karena dengan aku mengambil jeda ini aku bisa melihat perkembangan adikku yang saat itu baru berusia 6 bulan. Belajar mengurus bayi menjadi keseharianku di masa gap year, selain itu aku juga belajar menjahit di rumah sekaligus membantu pekerjaan orang tua. Saat gap year aku juga memantapkan lagi pilihanku di ilmu murni, dan aku menemukan profesi aktuaris, sejak saat itu aku ingin mengambil aktuaria namun itu prodi yang ketat dan aku belum berani sehingga jalan satu-satunya ya mengambil prodi mtk. Saat gap year aku mencoba mengikuti seleksi beasiswa OSC Medcom, sebagai PTS cadanganku tapi berakhir gagal juga. Awal 2020 aku mengajak temanku untuk mengikuti seminar motivasi Imakaba UI di gedung DPR Kota Pekalongan (seingetku), dengan tujuan untuk mengembalikan semangat dan bertemu dengan orang-orang yang setujuan denganku. Selesai seminar, aku meminjam jakun (jaket kuning) untuk berfoto. Saat itulah pertama kalinya aku memegang dan menggunakan jakun walau cuma sebentar, tapi rasanya seneng banget. Selama gap year aku diajak budhe beberapa kali ke purwokerto untuk menemani beliau kemoterapi, kontrol, dan sinar radioterapi di rumah sakit Margono. Pertama kali aku berada di depan ruangan radiologi dan baca-baca tulisan yang ada di tembok aku menjadi penasaran apa saja sih yang ada di dalam ruangan itu dan bagaimana cara kerja kemoterapi serta sinar yang dilakukan dalam pengobatan kanker. Dan jawabannya ku temukan dari google dan yang bikin menarik, dibalik radiologi ini ada profesi yang tak kalah kerennya yang menjadi partner kerjanya si dokter radiologi, yaitu fisikawan medik atau suatu profesi yang fokus di bidang fisika medis. Dari situ aku mulai tertarik untuk memilih fisika di pilihan keduaku, karena tertarik medis dan passion di mtk. Jeda 1 tahun masih ku jalani dengan teman-teman yang senasib denganku sampai dengan mengikuti UTBK bersamanya.

foto di depan RS Margono

foto saat seminar Imakaba UI

     Tibalah pengumuman UTBK dan aku ditolak lagi, saat itu aku memilih mtk Undip dan Unsoed. Karena sejak awal memutuskan gap year aku sudah menyusun rencana apa saja yang akan aku daftar baik itu PTN maupun PTS, maka di tolak di SBM saat itu tidak ada rasa kecewa dan nangis-nangis lagi. Namun, dari kurang lebih 20-an plan yang sudah ku susun cuma ada 1 PTS yang menerima aku dengan menggunakan beasiswa KIPK di prodi Teknik Industri. Awalnya aku seneng karena bisa mendapatkan universitas dengan beasiswa sehingga nantinya tidak akan memberatkan orang tua, namun setelah dipikir-pikir aku masih ingin memperjuangkan aktuaria, matematika, dan juga fisika. Aku memang sedikit tertarik ke dunia teknik tapi ternyata bukan tertarik untuk mempelajarinya lebih dalam melainkan hanya sebatas kagum. Akhirnya 1 hari setelah dinyatakan diterima disana, dengan persetujuan orang tua, aku memutuskan untuk mengundurkan diri dan menunggu beberapa hasil ujian mandiri yang telah aku ikuti. Namun lagi-lagi aku gagal, sempat ada yang berhasil lulus di prodi kimia UIN Jakarta namun hanya sebatas lulus tahap awal dan itu membuatku sangat kecewa, dan memang seleksi UIN Jakarta saat itu adalah seleksi terkacau menurutku mungkin karena belum ada persiapan yang matang karena saat itu Indonesia baru saja dilanda corona dn semua sistem seleksi berubah sesuai kondisi. Saat itu aku mencoba mengikuti simak UI dan Utul UGM dengan mengambil aktuaria sebagai pilihan pertama. Pertama kalinya memberanikan diri untuk mencoba aktuaria namun gagal lagi.

      Akhirnya aku memutuskan untuk mengambil jeda 1 tahun lagi. Disini aku berpikir bahwa aku harus mengubah suasana gap year agar berbeda dengan yang sebelumnya dan bisa lebih semangat lagi. Aku mengambil kursus menjahit di salah satu lembaga kursus di daerah kraton (LKP modiste danny), atas dasar keinginan orang tua juga sih sebenarnya dan aku juga ingin keluar dari zona nyaman. Disana aku belajar ngefitting baju, membuat pola dasar baju, dll ada gamis, rok, dan daster juga. Disana bertemu dengan orang-orang baru yang bermacam-macam, ada yang sudah ibu-ibu namun tetap belajar, ada juga yang baru saja lulus sarjana dan fokus ke kursus itu, dan dari sini aku belajar bahwa mencari ilmu itu tidaklah memandang usia, dan tidak memandang tempat karena dimana pun kita berada kita bisa mencari ilmu. Setelah selesai kursus, niat awalnya aku ingin kerja selama 3 bulan namun melamar kerja dimana-mana ditolak semua dan akhirnya kembali ke rutinitas seperti di gap year sebelumnya. Bedanya, di gap year kali ini aku lebih banyak mengikuti berbagai macam seleksi beasiswa untuk kuliah, aku mengikuti beasiswa Untar dan dapat 80% di Teknik Industri, ikut seleksi beasiswa PTS yang diadakan oleh OSC Medcom, Beasiswa ke PTN khususnya ITB melalui beasiswa perintis ITB, beasiswa keguruan yasbil, beasiswa keguruan lumina, beasiswa glow lovely, beasiswa PTS melalui Quipper Scholarship Awards, dan beasiswa keguruan rubic. 

     Setelah mendaftar UTBK SBMPTN di tahun ketiga, aku juga mendaftar CBT 1 UIN Suka sesuai dengan rencana di awal gap year yang kedua karena sebelumnya juga ditolak mandiri skor utbk 2020 di UIN Suka. Tanggal 6 April 2021 tes CBT 1 UIN dan seminggunya lagi (bertepatan dengan puasa pertama) tes UTBK sekaligus pengumuman CBT 1 dan seminggunya lagi ada tes Unpam (PTS cadanganku saat itu), bayangin aja sepusing apa aku disaat itu, 3 minggu berturut-turut ujian. Yang membuat hati ga karuan itu disaat puasa yang pertama dimana tes UTBK di siang hari dan sorenya pengumuman CBT 1 UIN, bener-bener ga karuan rasanya namun tetap berusaha untuk tenang. UTBK di tahun terakhir ini suasanya bener-bener berbeda dari sebelumnya karena aku ditemani bapak. Sore hari selesai UTBK, aku dan bapak menuju ke stasiun Poncol, Semarang untuk menunggu kereta (jam 9 malam) sambil istirahat. Saat itu aku sudah ada rencana mau membuka pengumuman nanti aja setelah di rumah, namun bapak mendesakku dengan pertanyaan "yang di UIN kapan pengumuman? udah pengumuman belum?" Akhirnya dengan rasa penasaran, aku beranikan diri untuk membukanya dan karena aku berharap lulusnya di mtk maka ku cari namaku di prodi itu dan ternyata tidak ada, rasa cemas menghampiriku dan saat ku cari di prodi fisika disana tertulis namaku, rasanya senang sekali apalagi ini momen yang sangat berbeda dimana aku membuka pengumuman di depan orang tuaku dan melihat wajah bapak yang tersenyum sangat senang mendengar kabar itu. Tak henti-hentinya bapak bertanya "Ini ada seleksi lagi ga yang kayak UIN Jakarta? takutnya kena php" dan aku meyakinkannya "tidak ada pak". Alhamdulillah berkah di hari pertama puasa.

      Walaupun sudah diterima di UIN dengan prodi yang sesuai rencana, bukan berarti aku santai-santai. Selama tujuan utama belum terwujud, ya harus tetap berusaha dan mencobanya. Sambil menunggu hasil SBM yang ku beranikan diri mengambil aktuaria UB dan mtk Unnes, aku belajar simak UI, SMUP Unpad, dan UM Unnes. Lagi-lagi di SBM aku gagal, saat itu aku berpikir "tidak mengapa, masih ada aktuaria UI, Unpad, dan ITB". Aktuaria ini hanya ada di universitas top kalau di Jawa makanya susah sekali apalagi dengan kuota yang sedikit, contohnya di mandiri UGM kuotanya hanya 16 orang itu masih nyampur dengan jalur PBU dan UTUL, ketat sekali. ITB dan UI lagi-lagi menolakku, saat itu aku merasa hancur karena gagal melanjutkan pendidikan ke UI, universitas yang pertama kali ku cari dan ku bucinin, tapi disisi lain merasa seneng karena bisa bertahan dan memperjuangkannya, motivasi ku saat itu hanyalah Iqbaal Ramadhan karena dia berhasil kuliah di Universitas yang ada di Australia (Monash University) karena dulunya saat pergi ke Australia untuk project CJR, dia jatuh cinta yang pertama kali dengan Australia dan mempunyai keinginan untuk merantau disana. Begitu juga denganku, saat itu aku berpikir kalau Iqbaal bisa ya aku harus bisa mendapatkan cinta pertamaku, namun nyatanya aku bukanlah Iqbaal, aku tidak bisa mendapatkan cinta pertamaku itu (UI). Harapanku satu-satunya untuk ke aktuaria hanyalah di Unpad dan aku berusaha lebih kencang lagi, karena ujian harus makai laptop dan aku belum punya maka aku minjem temen (Najwa dan Safira). Pagi-pagi uji coba ujian Unpad aku ke rumahnya Safira dengan cuaca yang mendung dan pulangnya hujan-hujanan. Besoknya aku minjam laptop Najwa yang ku bawa pulang ke rumah. Tapi nyatanya usaha tak sebanding dengan hasil, aku ditolak lagi, harapan ke aktuaria benar-benar habis, tapi aku tak menyerah, masih ada mtk Unnes dan aku ujian dengan meminjam laptopnya Anne (sebelumnya juga udah minjam untuk ujian simak UI). Aku berusaha lebih kencang lagi sembari menguatkan doa-doa, aku tidak mau mengecewakan orang tua dan teman-teman yang sudah membantuku. Ujian Unnes selesai, lalu lanjut menyiapkan pendaftaran KIP di UIN sembari menunggu hasil. Jujur saat itu merasa capek, karena dari awal diterima di UIN tidak ada hentinya ujian dan ujian lagi. Akhir Juli ternyata kabar buruk kembali datang, aku ditolak Unnes, kesempatan terakhir di prodi mtk, sedih dan kecewa menerkamku. Berusaha menerima kenyataan itu sulit, sungguh sulit. Aku masih ingat, aku ada cadangan PTS dan ternyata aku lulus di prodi mtk Unpam, prodi yang aku mau banget tapi nyatanya ortu lebih setuju aku di UIN, aku tidak bisa menolaknya, sekeras apapun aku menolak, tetap UIN pilihan ortu, Apalagi keinginan bapak yang mau anaknya ini di negeri bukan swasta. 

       Berada di universitas bukan impian itu tidak masalah untukku asalkan di jurusan yang diinginkan dan sesuai dengan passion. Dan menurutku apa yang telah ku dapatkan sekarang itu lebih baik dari apa yang ku dapatkan di tahun sebelumnya. Lagi pula, profesi aktuaris masih bisa didapatkan walaupun bukan berasal dari prodi aktuaria, mtk, maupun statistika. Asalkan lulus 7 ujian level Asai (ajun) dan 3 ujian level FSAI sudah bisa mendapatkan gelar aktuaris. Tidak ada sesuatu yang telat untuk diperjuangkan, kalau pun memang telat setidaknya harus tetap mencoba dari pada tidak sama sekali. Apa yang telah menjadi tujuanmu, itu wajib dan harus kamu perjuangkan. Aku bersyukur mempunyai teman-teman yang baik dan masih peduli denganku, yang masih mau menolong ku disaat aku kesusahan. 

     Kadang aku berpikir, jika memang takdirku ini di UIN Sunan Kalijaga, kenapa tidak dari awal diterima disana melalui SPAN PTKIN 2019, kenapa juga tidak di 2020 melalui mandiri skor utbk, kenapa harus di 2021 ini dan melewati segala rintangan berbagai macam ujian. Ya inilah jalan yang Allah berikan untukku, jalan yang sangat berbeda dengan teman-temanku, jalan yang terjal dan berkelok-kelok serta berbatu. Namun, dari sini aku bisa belajar apa arti hidup yang sesungguhnya, apa arti dari perjuangan dan berusaha yang sesungguhnya, belajar apa itu kesabaran dan keikhlasan. Hidup di dunia ini cuma sekali, dan itu penuh dengan tantangan dan rintangan, jika mau bertahan hidup ya mau tidak mau harus berjuang, berjuang untuk masa depan misalnya.

Komentar

  1. Terima kasih banyak Kak 🙏🏼
    Ceritanya sangat menginspirasi

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kanker, Salah Satu Penyakit yang Membahayakan dan Mematikan

Pernah ga jadi tempat curhatnya orang tua lo?