Ternyata Cinta
PROLOG
Perjodohan ini membuat kita bersatu. Mama menjodohkan gue dengan seorang dosen di kampus gue. Gue sempat menolak tapi mama tetap bersikeras. Kehiduan gue yang lika liku gue hadapi bersamanya. Hingga akhirnya gue memutuskan untuk berhijrah. Gue memutuskan untuk berhijab. Awalnya gue sempat mau bercerai dengannya, namun akhirnya kita tetap mempertahankannya. Keluarga kecil gue berubah menjadi manis kembali setelah Iqbaal dan mba Gita berakhir. Tidak ada lagi seseorang yang mengganggu kehidupan kita.
BAGIAN 1
Jam kuliah hari ini sudah selesai. Semua perlengkapan sudah masuk ke dalam tas.
“Stefhanie” panggil Pak Iqbaal, salah satu dosen gue di kampus. Dia menyuruh gue untuk menemui di ruangannya. Gue ga tahu kenapa dia menyuruh gue untuk ke ruangannya, yang gue tahu, gue tidak melakukan kesalahan apapun hari ini.
Gue pun pergi ke ruangan Pak Iqbaal. Gue duduk di kursi depan meja beliau. Ada beberapa map putih dan biru yang gue rasa itu milik kelas gue.
“Kamu sibuk setelah ini?” Tanya Pak Iqbaal.
“Ngga, pak. Ada apa ya?”
“Bantu saya periksa tugas kelas kamu.”
Dia memang terkenal sebagai dosen yang nyebelin. Seenak jidat aja kalau menyuruh. Bukan Cuma kali ini, sering banget malah. Seperti tugas yang ada di meja ini, dia nugasin ini minggu kemarin dan besoknya harus sudah jadi.
“Tapi kan dia ganteng.” Cetus Salsha. Gue paling sebel kalau Salsha recokin penistaan gue kepada dosen muda itu.
“Saya periksa disini pak?”
“Bawa ke perpustakaan dan serahkan nilainya besok.” Ucapnya sambil menyerahkan map dan lembar nilai.
“Saya dapet nilai tambah ngga pak?”
“Dengan saya ngga nyoret nama kamu daftar mahasiswa saya. Itu sudah cukup karena kamu dua hari ngga hadir tanpa keterangan.“
Gue diam. Dia selalu benar. Kalau Pak Iqbaal salah, mungkin itu hari keterbalikan karena Pak Iqbaal selalu benar. Itu aturan tidak tertulis mahasiswa yang berhadapan dengannya.
Map dan lembar nilai tersebut gue bawa dan gue pergi ke perpustakaan meninggalkan Pak Iqbaal.
Saat gue di perpustakaan, gue bertemu dengan Aldi. “Lo ngapain Stef?” Tanya Aldi. “Ngoreksi tugas, disuruh dosen gue.” Jawab gue.
Ini bisa dibilang tugas, yaitu tugas yang dikasih Pak Iqbaal dan baru selesai jam 6 sore dan sejak 2 jam lalu membuat mata gue lelah.
“Udah selesai kan? Pulang yuk.” Ajak Aldi.
Gue pun menganggukkan kepala. Dan gue segera memasukkan daftar nilai ke dalam tas dan menyerahkan berkas tugas ke penjaga perpus jika nanti Pak Iqbaal menanyakan mengapa tak dibawa pulang saja.
Ketika gue mau pulang, gue berpapasan dengan Pak Iqbaal. Niatnya gue mau memberikan berkas nilai besok, namun karena bertemu sekarang jadi gue kasih sekalian saja.
“Maaf, Pak. Saya sudah selesai mengoreksi tugasnya.”
“Bukannya saya minta besok ngasih nilainya, Stefhanie.”
“Apa salahnya kalau saya ngasih sekarang, Pak?”
“Yasudah, letakkan saja di meja saya.”
Gue sudah selesai mengerjakan apa yang Pak Iqbaal suruh, namun ia tak mengucapkan kata terima kasih sedikitpun pada gue.
Gue langsung pulang dan gue diantar Aldi. Lumayanlah gue ngga ngeluarin uang buat naik taksi. Aldi itu teman gue sejak SMA. Sekarang kita beda jurusan jadi kita jarang pergi bersama. Jika gue engga ada jadwal, dia ada tugas, begitupun sebaliknya. Padahal dulu waktu SMA kita itu seperti kakak dan adek yang kadang akur dan kadang tidak.
***
Pulang dari kampus, gue disambut oleh mama. Mama menyuruhku untuk ikut makan malam nanti dengan keluarga temennya. Mama sudah merencanakan semuanya dan gue mau dijodohkan dengan anak temennya mama.
“Nanti malam jadi ya makan malamnya, kamu siap-siap.” Ucap mama.
Gue menolak ajakan mama, namun gue tidak bisa berkelit.
“Kita sudah bicara Steff, mama ngga mau ada penolakan lagi.” Tambahnya.
“Mama ngga perlu nyariin Steffi pacar, Steffi belum butuh ma.”
“Apa salahnya sih? Syukur jika nanti bakal lanjut ke pernikahan kan.” Ujarnya. Apalah daya gue yang ngga bisa membantah ucapan orang tua. Gue pun menurutinya.
Gue sengaja mandi lama agar mama tak jadi mengajak gue makan malam. Namun yang terjadi malah gue diancam untuk nikah minggu depannya.
“Mama ngga mau tahu, 10 menit kamu ngga keluar, minggu depan mama nikahin kamu sama anak temen mama!”
Gue pun langsung mempercepat. Dan gue langsung menghampiri mama yang sedang duduk di ruang tamu. Tiba-tiba gue dapet sms dari dosen gue. Siapa lagi kalau bukan Pak Iqbaal. Gue disuruh menemuinya besok jam 8 pagi. Besok engga ada jadwal Pak Iqbaal dan besok gue berangkat siang. Tapi dia menyuruh datang pagi. “arghh ini dosen bikin mood gue nambah ancur aja.” Batin gue.
***
“Maaf lama ya jeng.” Sapa mama kepada wanita paruh baya yang gue rasa itu tante Sofi Karena dulu ia pernah main ke rumah, namun gue lupa anaknya itu seperti apa.
“Ini mana si ganteng?” Tanya mama
“Lagi di toilet, tunggu sebentar ya.” Jawab tante Sofi.
Gue terkejut saat melihat Pak Iqbaal yang muncul. Ternyata gue mau dijodohin sama Pak Iqbaal. Ya Tuhan, kenapa harus dia. Lelah batin gue jika harus berhadapan dengannya setiap hari. Pak Iqbaal duduk di depan gue, disamping ibunya.
“Dia mahasiswa saya bu.” Tegasnya.
Bisa pura-pura ngga kenal saja ngga si, arghh menyebalkan.
“Wah, berarti ngga harus lama dong kenalannya, bagaimana kalau 2 bulan lagi?” Ujar tante Sofi.
“Stefhanie lagi skripsi bu, kasihan jika harus nyiapin pernikahan.” Timpal Iqbaal.
“Kalo soal itu, biar tante sama sama ibu kamu aja yang nyiapin, baal.” Ujar mama.
Pak Iqbaal pun mengiyakan. Dua wanita paruh baya itu sangat gembira sedangkan gue ngga tahu harus bersikap seperti apa. Makan malam itu berakhir, dan gue pulang diantar Pak Iqbaal.
“Pak, saya ngga mau.” Pinta gue.
“Kamu pikir saya mau? Saya juga sudah punya kekasih.” Ujar Pak Iqbaal. Jleb berasa gue ditolak.
Setelah kejadian semalam, Pak Iqbaal bersikap seolah tak ada kejadian apapun. Sedangkan gue berusaha menahan diri agar tak membicarakan hal itu di kampus kecuali jika tak ada orang lain, walaupun gue rada sebel sama Pak Iqbaal.
“Pak, kenapa bapak nerima semua ini jika bapak sudah mempunyai kekasih?” Tanya gue heran.
“Itu urusan saya, kamu ngga perlu tahu, sekeras apapun kamu nolak, tante Farah bakal lanjutin ini.” Jelasnya.
“Tapi kan kalau bapak bilang sama tante Sofi soal kekasih bapak, beliau pasti mikir ini lagi.” Dia hanya diam dan cuma mantengin laptopnya yang menghalangi kita berdua. “Jujur ya pak, saya cuma pengen nikah sekali dalam hidup saya. Dan masalahnya itu…” ucapan gue dipotong Pak Iqbaal.
“Karena calon suami kamu itu saya?” ucapnya sambil berdiri dan menutup laptopnya bersiap untuk pergi dari ruangannya. “Kamu boleh keluar kalau memang mau keluar, saya mau mengajar dan pintu akan saya kunci. Saya akan kembali kesini 2 jam lagi, jika kamu mau menunggu.” Tambahnya yang sedikit agak ngusir gue secara halus.
Ya Tuhan, sabarkanlah hambaMu ini buat menghadapi dosen yang seperti ini. “Gimana bapak mau jadi suami saya jika saya diduain sama jadwal ngajar.” Gue engga tahu kenapa gue bisa ngomong seperti itu. Gue hanya iseng agar Pak Iqbaal ngga kaku dan galak.
Pak Iqbaal pun tak jadi keluar untuk mengajar. Dia memilih untuk menemaniku di ruangannya. Keadaan kita hening sampai 1 jam. Dan setelahnya Pak Iqbaal angkat bicara. “Ayo kita keluar!” ajaknya.
Pak Iqbaal engga bilang mau bawa gue kemana hingga akhirnya kita berhenti di depan butik. Disana ada mobil mama juga. Ketahuan deh mereka sekongkol tak memberitahu gue dulu.
“Bilang dong kalau kita mau ke butik, susah banget ya bilang begitu?” celetus gue kesal. Sebelum ia menjawab, gue sudah keluar dari mobil dan masuk ke butik tante Elen, sahabatnya mama.
“Mama kenapa ngga bilang kalau mau ngajak ke butik? Kenapa bilangnya malah sama Pak Iqbaal?” protes gue ngga terima, pasalnya anak mama itu gue bukan Pak Iqbaal.
“Kok masih formal gitu sih? Kan udah mau nikah.” Goda tante Elen.
Terus gue harus panggil dia apa, enakan juga gitu, lagian udah kebiasaan. Salah siapa jodohin gue sama dosen sendiri, galak lagi.
“Nak Iqbaal bilang kalian lagi kosong waktu, mama Tanya dia kapan ada waktu kosong, kan dia ngajar.” Jelas mama.
Gue hampir mau ketawa denger ucapan mama yang kesannya memuji calon mantunya ini. “Pak Iqbaal itu bolos ma, bukan ada waktu kosong.” Batin gue.
Semua sibuk memilih kebaya untuk acara lamaran nanti yang dibantu tante Elen. Mama menyarankan agar gue memakai kebaya warna merah muda, padahal mama tahu gue paling ngga suka pakai baju warna itu.
“Warna soft pink aja ta.” ucap Pak Iqbaal.
Gue melotot, dasarnya nyebelin ya nyebelin, dibilang ngga suka malah dipaksakan. Mati muda gue kalau nikah dengannya. Kebaya warna soft pink pilihan Pak Iqbaal lah yang akan gue pakai ketika lamaran nanti.
“Tadi malam ibu bilang kalau saya disuruh nanya ke tante. Lamarannya mau di rumah Steffi atau di luar?” Tanya Pak Iqbaal setelah semua urusan di butik selesai.
Biasanya dia manggil nama gue dengan sebutan Stefhanie, namun sekarang dia manggil gue dengan Steffi. Pertama kalinya dia manggil gue seperti itu. Jantung gue seperti permen nano-nano, berdegup kencang, ramai!.
“Rumah Steffi aja, baal. Ibu kamu udah bilang kan akhir minggu ini.” Jawab mama.
“Akhir minggu ini? Kok Steffi kagak tahu?” protes gue. Gue memang suka banget yang namanya protes. Gue ngga terima gitu aja dong. Tapi kalau protesnya sama mama, pasti gue kalah. Mama itu sifatnya sama seperti Pak Iqbaal.
“Kamu aja kalau diajak bicara ngga pernah mau. Selalu bilangnya mau tidur, banyak tugas. Tugas itu dikerjain bukan ditinggal tidur.” Jelas mama. Pak Iqbaal yang mendengar celotehan mama pun udah natap gue dengan tatapan penuh dengan sorot mengejek.
***
Gue berniat untuk pulang karena percuma juga gue balik ke kampus. Tiga kelas gue absen karena Pak Iqbaal, menyebalkan.
“Stef, kamu pulang sama nak Iqbaal ya, mama ada urusan lain. Nak Iqbaal, tolong anterin Steffi ya.” Pinta mama.
Padahal gue pengen pulangnya sama mama. Sedangkan Pak Iqbaal mengiyakan ucapan mama. “ngga usah, Steffi mau ke rumah Salsha dulu.” Pinta gue dengan alasan agar gue ngga pulang sama Pak Iqbaal.
“Salsha?” Tanya Pak Iqbaal yang gayanya seperti calon suami yang posesif. “Saya antar.” Tambahnya. Gue Cuma ngeliatin dia dengan sangat malas. Urusin saja lo pak. Batin gue berkata seperti itu. “Ngga ada jam ngajar pak?”
“Kamu tentu tahu apa alasannya.” Sahut Pak Iqbaal. Gue terdiam, pengen nolak tapi takut dicoret dari kartu keluarga sama mama yang masih ngelihatin kita dari mobilnya.
Waktu gue jalan buat naik mobil Pak Iqbaal, dia nahan tangan gue dan berkata “Kamu ngga mau pulang sama saya kan? Saya ada urusan lain. Saya carikan taksi buat kamu.”
Gue disuruh pulang sendiri naik taksi setelah tadi didepan mama dia mau nganterin gue katanya. Huft untung lo ganteng pak. Pak Iqbaal menaiki mobilnya dan putar balik meninggalkan gue di taksi. Sedangkan gue menaiki taksi tersebut. Gue menyuruh pak supir untuk mengikuti mobil Pak Iqbaal.
Taksi yang gue tumpangi berhenti di depan rumah sakit. Dan disitu memang ada mobil Pak Iqbaal. Setahu gue, Pak Iqbaal bukan orang yang suka berkunjung ke rumah sakit. Bahkan jika ada dosen yang sakit pun, Pak Iqbaal cuma nitip salam buat di sampaikan ke dosennya.
Gue memutuskan untuk nunggu di luar karena kamar di rumah sakit banyak dan ngga bisa nyari Pak Iqbaal.
Tiba-tiba ada yang manggil nama gue. Ternyata yang manggil itu Ferrel. Bisa dibilang dia itu gebetan gue. Tapi gue ngga terlalu ngarep lebih karena dia mau fokus sama study nya. Gue dan Ferrel beda kampus. “Mau ketemu mama?” Tanya Ferrel yang mamanya memang sedang di rawat di rumah sakit itu. Gue pun menguikuti Ferrel.
“Steff?” panggil Pak Iqbaal. Baru juga mau sama gebetan, ketemu lagi sama dosen galak. Di samping Pak Iqbaal ada cewek cantik dan berpostur tinggi. Jika dibandingin sama gue kalah saing deh.
“Eh Pak Iqbaal.” Jawab gue.
“Ngapain disini?” tanyanya.
“Mau jenguk mama saya, kita permisi, pak.” Sambung Ferrel.
“Dosen lo ya Stef?” Tanya Ferrel. Gue hanya menganggukkan kepala.
Kita masuk ke ruangan kamboja nomor 3, tempat mamanya Ferrel. Tiba-tiba Pak Iqbaal sms gue. Pak Iqbaal menunggu gue di rumah dan gue disuruh pulang. Ngga terasa gue ngobrol dengan orang tua nya Ferrel 2 jam. Lalu gue berpamitan dengan mereka. Gue pulang di antar oleh Ferrel.
Ketika gue sampai rumah, mobil Pak Iqbaal sudah terparkir di halaman rumah. Di ruang tamu, mata gue dan Pak Iqbaal bertemu saat dia mengalihkan pandangannya dari majalah yang dibacanya.
“Akhirnya kamu pulang, mama papa mau pergi jemput Bella.” Ucap mama.
“Ngapain jemput Bella? Kan dia udah ada jadwal libur.” Ucap gue.
“Mama udah bilang sama rektornya. Masa iya kakaknya lamaran adeknhya ngga datang.” Jelasnya.
Suasana hening setelah orang tua gue pergi. Mau atau engga gue duduk di ruang tamu, karena disitu ada Pak Iqbaa. “Saya nunggu kamu 2 jam disini. Kemana aja kamu?” Tanya Pak Iqbaal.
Galak nya udah mulai lagi. Gue terdiam.
“Pertama kamu bilang mau ke rumah Salsha, terus kenapa saya bisa ketemu kamu sama pria di rumah sakit.” Dengan kemeja yang dilipat sampai siku, dia beneran marah sama gue.
“Saya udah menghubungi kamu, tapi kamu ngga peduli itu. Bisa jawab saya ngga?”
“Ngobrol di rumah sakit sama orang tuanya Ferrel.” Jawab gue. Suasana semakin mencekam. Muka Pak Iqbaal berubah jadi serem.
Gue berdiri, niatnya mau ngambilin Pak Iqbaal minum karena ternyata mama belum ngasih dia minum.
“Duduk Steffi!” pintanya.
“Saya mau ambil minum pak.”
“Kamu bahkan mau minum di saat saya sedang marah?” bentak Pak Iqbaal. Mau dia apa sih, sontak batin gue ngga terima.
“Bapak pikir bapak siapa? Jangan karena mama saya mau jika saya nikah sama anda, Pak Iqbaal bersikap seenaknya sama saya! Ngga akan, saya punya kehidupan sendiri.”
“Mau kamu apa Stef?”
Di saat pertengkaran itu, tiba-tiba perut Pak Iqbaal bunyi. Dia lapar. Dan gue ketawa hingga Pak Iqbaal ngelempar bantal ke gue. Akhirnya gue ngasih Pak Iqbaal makanan. Ternyata ngga banyak protes jika tentang makanan. Dia makan dengan sangat beretika. Antara sendok dengan garpu pun seperti ngga ada gesekan.
Pak Iqbaal gue tinggal untuk ke kamar. Lumayanlah buat mandi dan ngerefresh otak. Gue sengaja buat lama-lama di kamar karena gue males debat sama Pak Iqbaal. Tetapi gue kasihan sama Pak Iqbaal jika harus nunggu. Ada pepatah mengatakan bahwa membuat pria nunggu itu ngga baik, terlebih jika akan dibawa ke hubungan yang serius. Sama hal nya wanita, mereka juga bisa bosan dan pergi.
Gue turun untuk menemani Pak Iqbaal. Dia belum pulang, Karena orang tua gue juga belum pulang. Seharian ini dia bolos ngajar dengan alasan yang sama yaitu menemani gue. “Bapak pulang saja, udah malem, saya ngga masalah di rumah sendiri.” Walaupun gue bicara seperti itu, dia tetep ngga mau pulang sebelum orang tua gue pulang.
Berhubung Pak Iqbaal belum pulang, jadi gue manfaatin waktu buat nanyain soal tugas yang dia kasih ke kelas gue dan sedikit diskusi soal skripsi gue. “Yang bagian ini gimana pak?”
“Kamu pernah denger cerita kancil yang nanya pak tani soal letaknya ketimun?” Tanya Pak Iqbaal.
“Ngga, mana bisa kancil nanya.”
“Maka dari itu, mana mungkin saya ngasih tahu jawaban dari tugas yang saya kasih.”
Menyebalkan, ternyata dia tetep keras kepala. Setelah itu emosi dia mulai naik karena kita sedikit membahas tentang masalah tadi. Sampai akhirnya gue berkata “Percuma pak kalau ini dilanjutin. Yang bapak cinta itu bukan saya, dan yang harapkan bukan bapak.”
“Kamu bener ngga mau lanjutin ini? Saya juga ngga mau maksa gadis saya ke dalam ikatan pernikahan.” Jawabnya. Gue sempet baper denger dia bilang "gadis saya" rasanya ini jantung udah ngga terkontrol. Setelah itu dia bergegas ke luar untuk pulang sambil berkatae “Telfon temanmu untuk menginap.”
Terimak kasih yang sudah membaca cerita saya yang agak abstrak ini hehe, maaf kalau ada yang typo dan berantakan karna saya juga masih belajar. Untuk bagian selanjutnya insyaAllah saya post di lain waktu.
Komentar
Posting Komentar